Ketidaktahuan adalah sebuah kejahatan?
Tuesday, February 28th, 2006Di suatu siang yang panas di halaman perumahan bedeng Bosscha. Anak-anak kecil seperti memiliki society-nya sendiri. Sissy (putri Pak Dadang Ait), Alwi (cucu Pak Nundang), Ari (putra Mas Irfan) dan jangan lupakan 1 nama.. Zidane (putra Mas Hendro). Entah bahasa apa yang mereka pakai, seolah-olah mereka dapat mengerti satu sama lain.
Seekor kucing baru saja beranak. Lucu-lucu. Satu per satu Sissy, Alwi, Ari dan Zidane mulai mengelus. Lama kemudian mereka mulai ingin mengangkat dan menggendong anak-anak kucing tersebut. Alih-alih mengangkat di bagian tengkuk, mereka mengangkat di bagian ekor tanpa tau prosedur mengangkat kucing yang benar. Tak berapa lama kemudian anak kucing ini bukan hanya digendong tapi juga diputar-putar. Dan engkau tau bagaimana cara mereka memutarnya? Yup! Bagaikan memutar tali yang ujungnya berbeban.. tanpa rasa bersalah mereka memutar-mutar anak-anak kucing tersebut. Mereka tertawa-tawa bahagia walaupun ibu-ibu mereka (dan saya tentu saja) berteriak-teriak ketakutan kalau-kalau ekor anak-anak kucing tersebut pada putus. Sang induk kucing hanya dapat memandang dengan o’on-nya. Mungkin karena sudah kenyang dikasih makan.
Dalam hidup ini seringkali kejadian tersebut ada. Entah kita kebagian peran sebagai apa. Kadang kita dengan sangat terpaksa berperan sebagai anak kucing, kadang sebagai anak-anak lugu, kadang sebagai ibu-ibu mereka dan bahkan kadang sebagai induk kucing yang o’on. Jika engkau ingin memilih, peran manakah yang kau sukai?
Peran paling tidak enak tentu saja menjadi anak kucing. Berhubung kita adalah manusia yang sadar.. tentu saja ingin sekali rasanya memberitahu penyiksa-penyiksa kita bahwa kalian tengah menyiksa saya. Bersyukur bahwa anak-anak lugu ini didampingi ibu-ibu mereka yang berusaha memberitahu dan mendidik mereka. Bayangkan jika ibu-ibu ini tidak ada.. apes betul anak-anak kucing tersebut!
Apakah anak-anak lugu ini patut dipersalahkan? Tentu saja tidak, selama ketidaktahuan yang melatarbelakangi mereka. Mereka baru bisa dicap jahat bila mereka tau apa yang mereka lakukan sebab… kejahatan yang paling jahat adalah kejahatan yang dilakukan semata-mata karena mereka bisa melakukannya (Hannah Arendt, The Origin of Totalitariansm) !
Lembang, 1 Maret 2006, subuh.